Sabtu, 04 Mei 2013

Revolusi Sepakbola Jerman

Gila bener, udah lama banget gak ngepost nih, biasa namanya juga anak rajin jadi sibuk ama kerjaan sekolah terus, hehe. Kali ini ane bakalan memberi kalian satu sajian yg edukatif, inspiratif dan semoga aja ada salah satu tokoh sepakbola di Indonesia yg baca ini Entri dan terinspirasi. Amin

Tentunya kalian udah tahu kan siapa yg jadi finalis Liga Champions 2013 ? Ya benar mereka adalah Borrusia Dortmound dan Bayern Muenchen. Terus emangnya kenapa ? Mereka ini sama-sama berasal dari Jerman dan inilah pertama kali dalam sejarah Liga Champions ada dua tim yg sama-sama berasal dari Jerman beradu di partai final.

Perjalanan kedua tim ini di Liga Champions musim 2012-2013 ini sangat menakjupkan. Mulai dari Borrusia Dortmound ajadeh.

Borrusia Dortmound awalnya hanya dianggap sebagai "Kuda Hitam" oleh sebagian pengamat dan akan angkat koper lebih awal karena mereka masuk ke dalam Grup Neraka, yg dihuni oleh Peringkat 1 dari liga-liga top eropa di musim sebelumnya, mulai dari Manchester City, Ajax Amsterdam dan Real Madrid. Tapi secara mengejutkan mereka berhasil lolos dari Grup neraka ini dengan gagah sebagai pemuncak klasemen.

Di fase 16 besar mereka berhasil menundukkan Shaktar Donesk dengan aggregat 5-2. Memasuki fase Perempat final mereka di tantang pendatang baru dari Spanyol, Malaga yg dikalahkan secara dramatis dengan aggregat 3-2.

Di Semifinal inilah mereka menunjukkan taji mereka dengan menendang Raksasa Spanyol, Real Madrid. Di leg pertama mereka membungkam Los Galacticos dengan skor 4-1, Lewandowski pun menjadi pemain pertama yg mencetak Quatrick ke gawang El Real di kompetisi Eropa. Die Borrusen pun melenggang ke Wembley setelah Madrid hanya mampu menang 2-0 di Bernabeu. (Agg 4-3).

Lanjut ke Bayern Muenchen. . 

Di babak penyisihan grup, Muenchen lolos dengan gagah di puncak klasemen yg di huni oleh Valencia, Bate Borisov dan Lille. Di babak 16 besar, mereka lolos dramatis dengan menyingkirkan Arsenal lewat agretivitas gol tandang (Agg 3-3). Di perempatfinal mereka berhadapan dengan satu-satunya wakil Serie A yg tersisa, yaitu Juventus yg mereka kalahkan dengan aggregat 4-0.

Memasuki semifinal mereka harus berhadapan dengan Raksasa asal Catalan, Barcelona. Banyak yg memprediksi Blaugrana akan ke Wembley lagi, tapi Die Rotten membuat publik sepakbola dunia tercengang dengan mengalahkan Barca di Allianz Arena dengan skor 4-0. Ingin membalikkan keadaan, Barca malah tersungkur lagi leg kedua dengan aggregat 7-0.

Lalu apa rahasia Jerman akhirnya menempatkan dua wakilnya di Final Liga Champions untuk pertama kali dan berhasil menghancurkan dua wakil dari Spanyol yg merupakan kiblat Sepakbola saat ini ?

Rahasianya adalah Pembinaan usia muda yg mereka telah jalankan kurang lebih 10 tahun. Ini berawal, pada Tahun 1990 Bundesliga sangat banyak memiliki pemain asing dibandingkan pemain lokal. Akibatnya adalah mereka berhasil dikalahkan oleh negara "Baru Jadi" Kroasia di PD 1998, dengan skor cukup telak, 3-0. Tidak berhenti sampai di situ, pada Euro 2000, Jerman yg merupakan juara bertahan mendapatkan pukulan telak dengan tersungkur di babak penyisihan dengan Status juru kunci, setelah di tahan Rumania dan takluk dari Inggris dan Portugal. 

Melihat akan hal ini pada tahun itu pula, Federasi Sepakbola Jerman melakukan investigasi, dan hasilnya DFB mengaku bersalah karena terlalu mengandalkan pemain-pemain senior di dua kejuaraan bergengsi tersebut.

Mulai saat itu, DFB melakukan perumusan solusi. Mereka mengundang sejumlah pihak, termasuk dari disiplin ilmu non sepakbola. Mulai dari ahli ekonomi, Matematika, Sport Science, manajemen, gizi, hingga teknologi terapan. Akhirnya pada tahun 2002 di temukan solusinya. Hasilnya. cetak biru pembinaan yg baru milik Jerman.

Tidak hanya sekedar pembahasan, solusi itu pun segera di terapkan dan di koordinasikan dengan tiga lembaga sekaligus, yaitu DFB, Liga sepakbola Jerman dan Asosiasi Liga Jerman.

Keputusannya adalah bahwa semua tim yg berlaga di Bundesliga 1 dan 2 harus mempunyai Akademi sendiri. Ke 36 tim yg bermain di dua kasta kompetisi itu pun menghabiskan setidaknya 100 juta Dollar untuk akademinya.

Di Luar tim sepakbola DFB membangun 121 pusat sepakbola Nasional di seluruh Jerman dan menyewa dua kepala pelatih terbaik dengan bayaran 15,6 juta dollar per akademi untuk jangka waktu 5 tahun. 

Selain dua hal itu, DFB juga mengajukan perubahan UU imigrasi Jerman. Dengan konsep liberalisasi kependudukan, para anak muda imigran akan menguntungkan timans Jerman. Konsep ini berbeda dengan naturalisasi. UU baru ini hanya memberi kemudahan kepada imigran usia kanak-kanak untuk mendapatkan paspor jerman.

Singkat cerita, hasilnya tim junior Jerman perlahan-lahan menguasai Eropa. Mulai dari memenangi Euro U-17, U-19 dan U-21. Kemudian para pemain ini tidak hanya menghuni Tim Junior saja, tenaga mereka kemudian dipakai di level senior. Hasilnya adalah generasi muda Timnas Jerman di PD 2010 yg di huni oleh Mesut Ozil, Thomas Mueller, Jerome Boateng, Sami Khedira dan Manuel Neuer. Hasilnya tidaklah buruk, mereka berhasil finis di Urutan Ketiga pada PD 2010.

Dua tahun berikutnya, yaitu Euro 2012, kita pun mulai mengenal Mario Gotze, Marco Reus dan Andre Schurrle. Ini adalah bibit Sepakbola Jerman yg mulai bersinar dan sinarnya akan semakin terang 4-5 tahun yg akan datang. Tidak hanya pemain lokal, ada juga pemain-pemain asing muda yg bersinar di Bundesliga, sebut saja Lewandowski, Nuri Sahin, dan Shinji Kagawa.

Jadi All German Final di Liga Champions tahun ini bukanlah sebuah kebetulan tapi merupakan hasil dari keseriusan Badan Sepakbola Jerman untuk membenahi diri. Jadi tidak ada kata terlambat untuk Indonesia dalam mengikuti jejak sukses Jerman ini, asalkan ada keseriusan dari bapak-bapak yg ada di PSSI sana.